Manfaatkan Dana PKH, KPM Berhasil Tingkatkan Status Ekonomi

Oleh Admin

Terbit Selasa, 26 Februari 2019   Dibaca 144 kali



Cilacap, 25 Februari 2019 - KPM Graduasi merupakan Keluarga Penerima Manfaat yang tidak lagi menerima bantuan sosial karena keluarga tersebut telah berhasil mandiri, sehingga jangan salah persepsi atau membuat opini keliru tentang Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) yang meningkat status ekonominya, mereka bukan 'salah sasaran' tetapi justru mereka semakin terampil dalam mengelola dana PKH. Keterampilan pengelolaan dana bantuan diberikan pula melalui Family Development Session/FDS PKH ditambah dengan upaya KPM PKH itu sendiri untuk meningkatkan kapasitasnya, sehingga status ekonomi mereka meningkat. "Ini adalah sebuah prestasi!" demikian disampaikan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, Harry Hikmat di sela-sela acara Penyaluran Bantuan Sosial Non-Tunai PKH di Gedung Patra Ria Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.

Adalah Belny Dorus Posari yang menceritakan pengalamannya selaku Koordinator Kabupaten (Korkab) PKH yang sebelumnya pernah menjadi pendamping di Kel. Kuta Waru Kab. Cilacap. Belny bercerita selama bertugas, untuk sampai di kelurahan tersebut harus naik Perahu Compreng dengan ongkos Rp. 3.000 ditambah untuk mengangkut motornya namun jikala hujan deras seringkali tidak bisa akses sampai ke tujuan. Meskipun kelurahan Kuta Waru berada ditengah kabupaten namun karena terpisah sungai maka perlu perahu untuk mencapainya.

Belny bertanggungjawab untuk 15 kelompok binaan dan  245 KPM PKH yang sebagian besar mereka berprofesi sebagai petani atau nelayan. “Jalanan disana cukup parah dan hanya terdapat kapal compreng untuk menyebrang, meski luasnya hampir separuh Cilacap” kata Belny. Sarana kesehatan juga terbatas, ketika itu belum ada Puskesmas. “Jadi masyarakat harus berjalan keluar kecamatan untuk mencari Puskesmas pembantu” lanjutnya.

Usaha Gigih Seorang Titing

Salah satu KPM PKH binaan Belny yang telah graduasi adalah Titing (37) yang telah berhasil mengembangkan usaha batiknya yang diberi nama "Batik Mangrove Kuta Waru Laksana Jaya". Ibu dua orang anak, lulusan SMP dan istri dari seorang seorang nelayan yang tak memiliki perahu sendiri, justru membuat Titing semakin antusias untuk menambah keterampilannya, demi merubah nasib kehidupannya. Ketika PKK setempat menggelar ketrampilan membatik, dia-pun tertarik untuk ikut serta.

Diawali dukungan bantuan CSR PT Holcim Indonesia Tbk Cabang Cilacap, Titing membuat kelompok membatik dari Kotawaru dan pada tahun 2012 Titing mulai serius belajar membatik dan menyisihkan sebagian dana bantuan PKH-nya untuk menambah modal usaha membatiknya. Berkat keuletannya, usaha batik pun semakin maju sehingga pada tahun 2013 ia keluar dari PKH. Memerlukan waktu dua tahun saja ia menjadi KPM PKH untuk selanjutnya bisa sukses mengembangkan usaha. Kemauan Titing sangat kuat untuk keluar dari PKH. Dengan kesadaran sendiri, ia-pun mundur sebagai KPM PKH. "Tetangga saya lainnya masih sangat membutuhkan bantuan PKH" imbuh Titing.

Ia juga mengajak KPM PKH lainnya untuk ikut membatik. “Orderan rutin datang dari toko-toko batik di Solo, Klaten dan Kota besar lainnya", bahkan ia juga pernah memperoleh order untuk membuat batik seragam PKH se-Kabupaten Cilacap, batik untuk pegawai Dinas Sosial setempat dan masih banyak lagi. Batiknya pun sudah sering mengikuti berbagai pameran di kota-kota besar. Titing kini memiliki 15 pekerja untuk mengembangkan usaha batiknya. Saat ini, ia akan mengikuti pelatihan untuk cara mengekspor batik ke luar negeri. "Batik tulis tangan saya banderol seharga Rp.300.000,- ke atas dan batik capnya seharga Rp 80.000,- ke atas ” tutur Titing bersemangat. Seiring perkembangan zaman, Titing juga memasarkan produksi batiknya melalui media sosial. Batik tulis dan batik capnya telah melalangbuana.

 


Bagikan