PASCA ALIH STATUS WYATA GUNA : Dinsos Jabar Tampung Empat Siswa Baru SLBN A Kota Bandung

Oleh Admin

Terbit Rabu, 30 Oktober 2019   Dibaca 15 kali



Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat menampung empat siswa baru disabilitas yang tidak dapat ditampung di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPSDN) Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

Keempat anak disabilitas semuanya tuna netra masing-masing Naufal, kelas 7 dari Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat; Rohib, kelas 12 dari Cirebon;  Adit, kelas 10 dari Kabupaten Bandung, serta Deras, kelas 10 dari Kota Bandung.  

Keempat anak ini akan ditampung di UPTD Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mensenetruitu milik Dinsos Jabar yang berlokasi di Jalan Cibabat, Kota Cimahi.

Secara formal, serah terima peserta didik dilaksanakan dalam sebuah MoU dan prasasti yang ditandatangani Kepala UTPD Panti Sosial dan Kepala SLBN A Kota Bandung disaksikan Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat di Jalan Cibabat, Kota Cimahi, Senin (28/10/19).

“Alhamdulillah empat peserta didik baru ini yang tidak dapat akses ke Wyataguna (Pajajaran) setelah berubah status dari panti ke balai, mendapatkan hak kebutuhan dasar kepantian, akomodasi yang layak, dan rehabilitasi sosial,” ujar Kepala SLB Negeri A Wawan, dihubungi Selasa (29/10/19).

Selama tinggal di Panti Rehabilitasi (Cibabat), keempat anak ini bersekolah di SLBN di Jalan Pajajaran. Sementara ini biaya antar jemput siswa masih swadaya dari guru-guru SLBN, tapi mendatang ditanggung Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat.

“Arahan Pak Gubernur jelas bahwa semua ini harus ada kolaborasi. Tidak hanya Dinas Sosial dengan Dinas Pendidikan, tapi juga Dinas Perhubungan. Untuk bersekolah dari Cibabat ke Pajajaran kan butuh kendaraan,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Jabar Adun Abdullah Safi’i M.Ag.

Selama tinggal di Panti Sosial Rehabilitasi Cibabat, keempat anak beruntung ini mendapat fasilitas asrama, makan tiga kali sehari, uang saku Rp5.000 per hari. Mereka juga ditemani satu pendamping yang bertugas sebagai guru agama hasil swadaya guru-guru SLBN.  Keempatnya akan tinggal di panti hingga tuntas wajib belajar 12 tahun.

“Untuk tahun 2020 saya sudah anggarkan untuk kebutuhan empat anak ini, sampai SMA atau wajib belajar 12 tahun. Kalau ada yang ke perguruan tinggi, masih bisa tinggal di panti. Tapi kalau tidak lanjut ke PT, kami akan kasih pelatihan selama delapan bulan agar dapat bekerja. Selama masih belum kerja dan tidak mampu, tetap kami akan tampung,” kata Ferrus, Kepala UTPD Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Mensenetruitu.

 


Bagikan

Komentar


Komentar